Ulasan

Blog ini saya bikin untuk beberapa tujuan. Meski tujuan utama adalah menulis. Selain berbagi tentang minat saya dalam sastra, rencananya saya juga akan berbagi tentang bacaan saya. Selain buku sastra, juga akan ada ulasan tentang blog-blog atau situs-situs yang menarik hati saya. Sudah ada lebih dari lima blog di kepala saya yang ingin saya ulas di sini. Dan hari ini saya menemukan satu blog lagi. Semoga rencana ini berjalan lancar.

Pembaca Produktif

Untuk menjadi penulis, laku ini harus dilakukan. Wajib. Beberapa tahun yang lalu, saya tak menyadari betapa pentingnya membaca. Saya hanya sekadar suka. Saya tak pernah memaksa diri saya untuk terus membaca. Ketika saat ini sudah tahu bahwa membaca itu perlu untuk menjadi seorang penulis, saya lupa satu hal: berpikir. Saya membaca hanya sekadar menikmatinya. Saya tak pernah memikirkan bagaimana bisa cerita ini begitu menarik. Apa yang saat itu dipikirkan penulis ketika menulis cerita itu? Dari mana penulis bisa terpikir tentang ide semacam itu? Dan yang lebih penting, saya tak pernah mengkaji bacaan-bacaan saya.

Saya baru sadar beberapa jam yang lalu, ketika memutuskan untuk menjadi pembaca produktif. Tidak hanya buku, tapi juga blog. Setiap hari saya harus membaca. Selain buku dan blog, untuk menunjang cerita yang nantinya saya tulis, saya juga harus membaca keadaan, situasi, lingkungan, suasana, dan apapun yang ada di sekitar saya atau yang ada dalam diri saya.

Mulai sekarang saya juga harus memutuskan alasan kenapa dan untuk apa saya menulis. Itu sebuah laku berpikir, bukan? Berpikir itu penting bagi seseorang yang memutuskan untuk menjadi penulis.

Dari sekian buku yang saya beli, baru lima atau enam buku yang saya baca hingga rampung. Tapi, pada akhirnya saya tahu apa yang sebenarnya ingin saya tulis. Cerita pendek seperti apa yang ingin saya tulis. Novel yang bagaimana yang ingin saya tulis. Seberapa tebal. Itu semua harus saya pikirkan dari sekarang. Termasuk buku dan blog siapa yang akan saya baca mulai malam ini.

Dua Cerita dalam Kepala

Setelah merampungkan Lapar, Knut Hamsun, saya membaca kumpulan cerpen klasik dunia bertajuk Fiksi Lotus Vol. 1 yang disusun oleh Maggie Tiojakin (saya masih menunggu Vol. 2). Saya baru membacanya separo. Dan ada beberapa cerpen yang menggugah saya untuk menulis atau lebih tepatnya mencoba menulis cerpen. Saya suka dengan cerpen Teka-teki karya Walter de La Mare. Cerpen Ramuan Cinta yang saya lupa sia penulisnya.

Yang jelas, dari bacaan yang baru separo itu, membuat saya mengingat dan harus membaca lagi tulisan Eka Kurniawan tentang mencuri dari penulis lain dan mendaur-ulang cerita penulis lain menjadi cerita yang baru di blog ekakurniawan.net. Ada satu cerita yang akan saya curi dan daur-ulang.

Lho kok cuma satu? Satu lagi mana? Cerita yang satunya lagi saya dapat ketika membaca Sejarah Aib Jorge Luis Borges. Kedua cerita itu seolah memaksa untuk menetap di kepala saya. Berhimpitan dengan ide dasar novel yang belum juga saya tulis, meski sudah mengendap lama di kepala. Saya percaya bahwa gagasan yang mampu bertahan lama merupakan akar dari novel atau cerpen yang bagus. Semenjak keyakinan itu muncul, saya tak pernah lagi mencatat ide-ide yang berseliweran.Dan saya gembira, karena buku-buku yang saya pesan sudah sampai di tangan. Semoga saya bisa mencuri dan mendaur-ulang cerita lebih banyak dari buku-buku itu.

Menulis dan Hal-hal Lainnya

Sampai sekarang saya masih mencoba untuk menjadi penulis. Terutama penulis cerpen dan novel. Saya selalu bermimpi bisa menulis sebagus Marquez, Eka Kurniawan, Salman Rushdie, dan Etgar Keret. Dan sempat terpikir punya kemampuan menulis yang merupakan gabungan dari keempat penulis itu.

Saya selalu menyempatkan diri memantau penulis-penulis itu. Meski tak semua karya mereka bisa saya nikmati. Terutama Etgar Keret. Hanya beberapa cerpennya yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Favorit saya Crazy Glue yang diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin di Fiksi Lotus menjadi Alkisah Setabung Lem. Benar-benar kisah yang menghantam kepala.

Sebelumnya saya pernah tergila-gila dengan surealisme Seno yang terkenal dengan Sukab dan senja. Saya juga sempat terkagum-kagum dengan A.S. Laksana dan Yusi Pareanom. Tapi semakin ke sini, saya mulai tahu ke arah mana cerpen dan novel yang akan saya tulis nanti.

Bisa dikatakan seperti ini: saya ingin menulis novel seperti Gabriel Garcia Marquez menulis Seratus Tahun Kesunyian; saya ingin menulis cerpen seperti Etgar Keret menulis Crazy Glue; saya ingin mempunyai imajinasi seperti Salman Rushdie ketika menulis Haroun and the Sea of Stories; saya ingin menulis dengan rumus “What if ….” layaknya Jose Saramago; saya ingin menulis seperti Borges; pun saya ingin menjadi penulis seperti Eka Kurniawan yang mampu “mencuri” teknik dari penulis-penulis yang sering dia sebutkan di blognya.

Dan yang paling penting, saya ingin menulis cerpen dan novel tanpa beban ingin terkenal dan kaya dan dielu-elukan banyak orang. Yang saya inginkan adalah ingin menjadi penulis yang lebih dikenal karyanya seperti Cervantes yang kalah populer dari karakter rekaannya, Don Quixote.

Terakhir, saya ingin menggurui diri sendiri, “Jangan menulis apa yang akan atau ingin kau lakukan, tetapi tulislah apa yang sudah kau lakukan.”