Menulis dan Hal-hal Lainnya

Sampai sekarang saya masih mencoba untuk menjadi penulis. Terutama penulis cerpen dan novel. Saya selalu bermimpi bisa menulis sebagus Marquez, Eka Kurniawan, Salman Rushdie, dan Etgar Keret. Dan sempat terpikir punya kemampuan menulis yang merupakan gabungan dari keempat penulis itu.

Saya selalu menyempatkan diri memantau penulis-penulis itu. Meski tak semua karya mereka bisa saya nikmati. Terutama Etgar Keret. Hanya beberapa cerpennya yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Favorit saya Crazy Glue yang diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin di Fiksi Lotus menjadi Alkisah Setabung Lem. Benar-benar kisah yang menghantam kepala.

Sebelumnya saya pernah tergila-gila dengan surealisme Seno yang terkenal dengan Sukab dan senja. Saya juga sempat terkagum-kagum dengan A.S. Laksana dan Yusi Pareanom. Tapi semakin ke sini, saya mulai tahu ke arah mana cerpen dan novel yang akan saya tulis nanti.

Bisa dikatakan seperti ini: saya ingin menulis novel seperti Gabriel Garcia Marquez menulis Seratus Tahun Kesunyian; saya ingin menulis cerpen seperti Etgar Keret menulis Crazy Glue; saya ingin mempunyai imajinasi seperti Salman Rushdie ketika menulis Haroun and the Sea of Stories; saya ingin menulis dengan rumus “What if ….” layaknya Jose Saramago; saya ingin menulis seperti Borges; pun saya ingin menjadi penulis seperti Eka Kurniawan yang mampu “mencuri” teknik dari penulis-penulis yang sering dia sebutkan di blognya.

Dan yang paling penting, saya ingin menulis cerpen dan novel tanpa beban ingin terkenal dan kaya dan dielu-elukan banyak orang. Yang saya inginkan adalah ingin menjadi penulis yang lebih dikenal karyanya seperti Cervantes yang kalah populer dari karakter rekaannya, Don Quixote.

Terakhir, saya ingin menggurui diri sendiri, “Jangan menulis apa yang akan atau ingin kau lakukan, tetapi tulislah apa yang sudah kau lakukan.”